Friday, March 14, 2014

KESETIAAN YANG TERUJI

Assalaamu'alaikum, hai sobat pembaca Rajamenyok yang setia. Tidak mudah memang menjaga hati itu. Organ dalam tubuh kita yang tidak lebih besar dari kepala kita ini memang sangat luar biasa. Bahkan dalam hadist di sabdakan "Ada segumpal darah dalam tubuh manusia, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya. Jika ia jelek, maka jeleklah seluruh tubuhnya, ia adalah hati".


Di kisahkan sepasang suami istri yang hidup bahagia penuh rahmat Allah dalam sebuah keluarga kecilnya yang belum lama dibangun. Istrinya memiliki paras wajah yang cantik luar biasa hampir tanpa cacat, MAASYAA ALLOOH...

Suatu hari saat sang suami dalam sebuah tugas diluar kota, sang istri harus tinggal sendiri di rumah. Kala itu datang wabah menyerang desa tempat dimana rumah mereka berada. Istrinya seorang diri di rumah terus berdoa agar Allah menjauhkan wabah itu dari diri dan keluarganya. Ini adalah wabah yang menyerang kulit siapa saja dalam sebuah kawasan yang timpanya.

Allah berkehendak lain, sang istri harus ridlo menerima qodar Allah. Hatinya sedih luar biasa. "Ya Allah...aku mampu menerima ini semua...aku ridlo...tapi aku tidak mampu jika harus bertatap wajah dengan suamiku tercinta...". Begitulah isi curahan hati sang istri sepanjang waktu. Wajah cantiknya kini telah mulai rusak karena tertimpa wabah penyakit kulit tersebut. Wajahnya yang dulu mulus, manis, cantik, merah merona kini berubah total, kering, bersisik, pecah-pecah...hhmm..sungguh Allah begitu mudah merubah keadaan.

Dalam perjalanan pulang dari tugasnya diluar kota, sang suami tertimpa musibah kecelakaan. Tersiar kabar hingga kepada istrinya bahwa suaminya mengalami kebutaan akibat dari kecelakaan tersebut. Sang istri semakin sedih tidak karuan. "Ya Allah...apa lagi ini...., biar aku saja yang tertimpa musibah, cukup aku ya Allah, jangan suamiku....". Lagi-lagi dia menangis.

Sesampai di rumah, sang istri segera menyambut kedatangan suaminya. Hatinya campur aduk, entah apa yang ia rasakan. Kehidupan mereka berjalan normal seolah tidak terjadi sesuatu yang mampu mengambil kebahagiaan mereka. Mereka tetap saling menyintai seperti sebelum musibah menimpa mereka. Sang istri selalu menggandeng sang suami ketika berjalan kemanapun untuk menuntunnya. Ibadah mereka tetap berjalan sebagaimana orang yang normal, bahkan mereka lebih tawadlu'.


40 tahun mereka hidup berumah tangga dengan keadaan seperti itu, sang suami buta, sang istri hilang kecantikannya. Akhirnya sang istri lebih dahulu dipanggil Allah. Kesedihan luar biasa hinggap dalam hati sang suami. Matanya seakan membendung air mata yang luar biasa deras, sedih tak mampu menangis....

Sang suami ikut dalam proses pemakaman istrinya, dan ia adalah orang yang terakhir pulang dari pusara sang istri tercinta. Ketika ia hendak beranjak pergi dari pemakaman itu, ada seseorang yang memperhatikannya lalu bertanya "Bapak mau kemana?"

"Saya mau pulang nak..."

"Bapak kan biasanya selalu digandeng sama istri bapak kemana-mana, jalan menuju rumah penuh jurang terjal dan jembatan kecil, saya kuatir bapak tidak bisa berjalan sendiri..."

"Ketahuilah nak.., sebenarnya saya selama ini tidak buta. Saya berpura-pura buta ketika mendengar kabar istri saya wajahnya cantiknya berubah jelek, ini agar istri saya tidak malu, minder menjadi istri saya..."

Seseorang yang bertanya tadi tertunduk kepalanya....tanpa kata...