Sunday, April 21, 2013

Orang-orang Yang Lupa Bergembira




Doa yang paling sering saya panjatkan adalah agar Tuhan tidak mencabut kegembiraan dalam hati saya. Karena betapa mudah saya untuk sedih, mengomel, dan uring-uringan terhadap keadaan. Keadaan itu bisa bernama apa saja, baik dalam kondisi nyaman apalgi dalam zona sudah. Apakah zona susah itu? Ini juga pertanyaan jebakan, apalagi jika susah hanya disempitkan sebagai kemiskinan dan kebendaan.

Di masa kecil, ketika miskin benda itu benar-benar mencekik leher kami dan tetangga, mudah bagi kami untuk gembira bersama. Cukup dengan bulan purnama, kami langsung berkumpul, bernyanyi dan menari di tanah lapang. Malam boleh gelap, tapi dengan bulan, malam jadi sangat berarti.
Kota kami kini terlalu terang. Kedatangan bulan sering jadi tidak penting lagi. Terang benderang setiap kali, kita malah marah ketika listrik cuma sebentar saja mati. Jelas kegembiraan itu tetap ditempatnya, walau hidup kita berubah.

Apapun perubahan yang terjadi jika tidak mengajak kegembiraan turut serta adalah soal yang tidak saya ingini. Saya tidak ingin menjadi pribadi yang uring justru ketika diberi kemudahan  membeli rumah atau mobil misalnya. Karena mobil itu bisa menjadi biang waswas tanpa henti. Tergores sekuku saja akan menancap dalam hati. Begitu juga dengan semua jenis pertumbuhan yang melupakan kegembiraan, akan terus saya wapadai.

Pertama kali kami merenovasi rumah, yang berlangsung tidak cuma gairah merenovasi, tapi juga pertengkaran dengan istri, omelan kepada tukang, dan curiga kesana kemari. Saya kaget sendiri pada ironi itu. Rumah ini mestinya membuat gembira, tapi malah menimbulkan kekacuan. Sumber kekacuan segera saya telusuri. Ternyata sumbernya adalah karena sumber-sumber kegembiraan habis saya korupsi. Saya ingin sumber seluruh kegembiraan tertuju pada saya. Sementara kebahagiaan istri dan  tukang saya tidak peduli. Istri saya lelah menyiapkan ini itu. Tapi karena konsentrasi saya hanya ke arah saya sendiri, saya jadi tidak peduli. Begitu juga ketika sedikit saja tukang terlambat saya mengomel. Saya lupa memberi ruang kepada tukang untuk gembira dengan pekerjaannya. Padahal sedikit malas apalah salahnya, sedikit keliru apalah bahayanya. Toh dalam kerja saya juga suka mencuri-curi kemalasan secukupnya.

Rumah itu benar-benar akan menggembirakan saya ketika saya menjadikannya pusat kegembiraan bersama. Istri boleh beri masukan, agar ia merasa ada didalamnya. Begitu juga dengan anak-anak dan tukang. Saya harus memberi rung bahkan untuk keliru sekalipun agar jiwa mereka merdeka.

Azas gembira itu bukan salah atau benar, melainkan apakah rumah itu telah menjadi ajang memberi manfaat bersama. Jadi dalam penyebab gembira itu terjadi kegembiraan yang sesunguhnya. Jadi jelas tidak perlu menunggu lama untuk gembira, karena sumbernya bukan pada keadaan tapi kemauan. Ini berlaku juga bagi yang sedang berpengharapan. Memang disebut harapan karena belum jadi kenyataan, tapi dalam harapan kita sudah diizinkan untuk gembira. Buktinya begitu banyak orang lupa gembira ketika harapannya jadi kenyataan. Karenanya gembira itu bukan soal kapan, tapi soal apakah kita akan membuat keputusan.

Terima kasih telah mampir dan semoga bermanfaat. Semoga Allah senantiasa memberikan keamanan, keselamatan, kelancaran dan kebarokahan..aamiin.

Sumber : Prie GS smartfm