Monday, July 29, 2013

Terimalah Aku Kembali

Terimalah Aku Kembali

Setiap diri pasti pernah melakukan salah atau dosa. Baik berbuat salah antara manusia dengan manusia atau manusia dengan penciptanya. sengaja atau tidak sengaja, besar atau kecil, dilihat orang atau tidak dilihat orang. Bahkan orang sekaliber rosul Alloh pun pernah melakukan dosa. Itulah kita manusia, karena kita manusia diciptakan selain dilengkapi dengan akal pikirian, kita juga diberi syahwat atau keinginan atau hawa nafsu. Firman Alloh:

Innan-nafsa la-ammaarotun bissuuk ~ hawa nafsu niscaya memerintahkan pada kejelekan. 


Itulah hawa nafsu yang cenderung mengajak kita pada kejelekan. Kita tidak mempunyai musuh yang paling berat dalam hidup kita melainkan diri kita sendiri. Seringkali kegagalan kita pada sesuatu bukan karena faktor dari luar melainkan karena kita sendiri yang tidak mampu mengalahkan diri kita. Rasa malas, gengsi, tidak mau mengikuti peraturan dan banyak lagi sikap-sikap yang lain yang membuat kita gagal.

Keimanan kita tidak mungkin bisa stabil. Terkadang naik dan terkadang turun. Karena memang begitulah adanya Alloh menjadikan keimanan dalam diri kita. Di saat keimanan kita sedang kuat maka dengan idzin Alloh kita mampu menghalau godaan-godaan syetan. Di kala keimanan kita sedang turun lalu hati kita dikuasai oleh hawa nafsu dan kita tidak segera menghentakkan hati kita agar ingat kepada Alloh, agar kembali kepada Alloh maka dengan mudahnya syetan masuk dan mengarahkan kita pada perbuatan dosa. 

Laa chaulaa walaa quwwata illaa billaah ~ tiada upaya untuk mampu menghindar dari perbuatan menentang Alloh kecuali dengan nikmat Alloh, kecuali dengan penjagaan Alloh, dan tiada kekuatan untuk mampu berbuat taat kepada Alloh kecuali dengan pertolongan Alloh. 

Itulah mengapa kita harus banyak berdo’a agar Alloh selalu menjaga keimanan kita, agar ketika kita lemah, khilaf, Alloh segera menyadarkan kita dan menguatkan iman kita kembali. Itulah mengapa kita harus sering berdzikir kepada Alloh dan memohon ampunan atas segala dosa-dosa kita. Karena jika tidak maka kita akan lebih mudah terbawa godaan syetan.

Sahabatku…, tidakkah kita rindu untuk kembali menempati rumah kita yang sesungguhnya…?, tidakkah kita ingin kembali hidup di alam kita yang sebenarnya…?. Dunia ini hanya sementara…, bukanlah tempat kita yang sesungguhnya. Dunia ini tempat ujian kita, kesempatan terakhir kita untuk mendapatkan kembali surga kita atau kehilangan untuk selama-lamanya. Yang lebih menyulitkan adalah kita tidak tahu kapan kesempatan itu berakhir. Karena sungguh hanya Alloh yang tahu kapan saatnya kita kembali pulang kepadaNya. Sahabatku…, lukiskanlah surga di hati kita, datangkanlah surga di mata kita, hadirkanlah surga dalam mimpi-mimpi kita. Janganlah menunda kesempatan terakhir kita ini. Dengan kembali bersujud kepadaNya, maka surga akan terlukis dalam hati kita, surga akan datang di depan mata kita dan hadir dalam mimpi-mimpi kita. Alloh berfirman: 

“Yaa ayyuhalladziina aamanuu tuubuu ilalloohi taubatan nashuuchaa ‘asaa robbukum an-yikaffiro ‘ankum sayyiaatikum wayud-khilakum jannaatin taj-rii min tahtihal anhaar...”. (Q.S. Attahrim ayat 8).

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian kepada Alloh dengan taubat yang baik maka pasti tuhan kalian menghapus dosa-dosa dari kalian dan memasukkan kalian kedalam surga yang di sekitarnya mengalir beberapa sungai….”.

Sahabat…, jangan pernah putus asa dari kebaikan, jangan pernah putus asa dari rohmat Alloh karena telah melakukan dosa. Betapa Alloh begitu menyayangi hambaNya yang benar-benar ingin kembali kepadaNya. Alloh akan menerima kita apapun kondisi kita saat kita mendekat dan bersujud kepadaNya. Hadits dari Nabi Muhammad S.A.W menerangkan bahwa: 

“Anna rojulan qotala tis’atan watis’iina nafsan faja’ala yas-alu hal lahu min taubatin?, fa-ata roohiban fasa-alahu, faqoola laisat laka taubatun, faqotalar-roohiba tsumma ja’ala yas-alu, tsumma khoroja min qoryatin ilaa qoryatin fiihaa qoumun shoolihuun, falammaa kaana fii ba’dlith-thoriiq ad-rokahul maut, fana-a bishod-rihi tsumma maata, fakhtashomat fiihi malaaikaturrochmati wamalaaikatul ‘adzaabi, fakaana ilaal qoryatish-shoolihati aq-roba minhaa bisyib-rin, faju’ila min ahlihaa”. (H.R. Muslim fii kitaabit taubah).

Artinya: “Sesungguhnya seorang laki-laki telah membunuh 99 orang, lalu dia ingin bertaubat. Maka segera dia bergegas akan bertanya kepada seseorang apakah masih terbuka pintu taubat untuknya?. datanglah dia kepada seorang ahli ibadah dan menanyakan hal itu kepadanya. Lalu orang ahli ibadah tersebut berkata : “tidak ada lagi pintu taubat bagimu”. Laki-laki itu merasa kecewa dengan jawaban tersebut dan dia pun membunuh ahli ibadah itu. Namun laki-laki itu tidak putus asa. Dia terus berjalan untuk menemukan orang yang mungkin dapat memberikan petunjuk untuknya agar dapat melaksanakan taubat. Maka dengan idzin Alloh bertemulah dia dengan orang yang ‘alim. Dan laki-laki itu menceritakan dengan lengkap sisi kehidupannya yang kelam. Orang ‘alim tersebut memberikan petunjuk kepada laki-laki itu agar datang ke suatu tempat untuk dapat melaksanakan taubatnya. Di tempat itu tinggal orang-orang sholih. Maka laki-laki itu pergi meninggalkan kampung halamannya menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang ‘alim di mana laki-laki itu dapat menunaikan taubatnya. Namun dalam perjalanan menuju tempat taubat, laki-laki itu mati dengan tubuh roboh kedepan. Malaikat pembagi rohmat dan malaikat penyiksa bertengkar dalam hal laki-laki itu. Kedua malaikat merasa berhak atas laki-laki itu. Maka Alloh mengambil hukum atas laki-laki tersebut. Jika mayatnya lebih dekat ke tempat taubatnya yang di sana tinggal orang-orang yang sholih, maka laki-laki itu adalah golongan orang-orang yang sholih. Tapi jika mayatnya lebih dekat ke kampung halamannya, maka laki-laki itu tetap sebagai pembunuh yang belum bertaubat. Demi menegakkan hukum Alloh maka kedua malaikat mengukur jarak antara mayat laki-laki itu dengan kampung halamannya dan dengan tempat taubat yang ditujunya. Ternyata mayat laki-laki itu satu jengkal lebih dekat ke tempat taubat. Maka Alloh menghukumi laki-laki itu sebagai golongan orang-orang yang sholih”.

Sahabatku….,betapa Alloh begitu sayang kepada orang-orang yang melaksanakan taubat. Jangan biarkan syetan terus-terusan bersemayam dalam hati kita. Mengendalikan kita dengan segala upadayanya. Semakin kita biarkan maka syetan akan semakin kuat mencengkeram hati kita. Ingatlah sabda Nabi: 

“Innal mukmina idzaa adznaba kaanat nuktatun saudaa-u fii qolbihi, fa-in taaba wanaza’a wastaghfaro shuqila qolbuhu, fa-in zaada zaadat, fadzaalikar “ROONU” alladzi dzakarohulloohu fii kitaabihi (kallaa bal ROONA ‘ala qulubihim maakaanuu yaksibuun)”. (H.R. Ibnu maajah fii kitaabiz zuhud).

Artinya: “Sesungguhnya ketika orang iman berbuat dosa maka hatinya di titik hitam oleh Alloh, jika dia taubat dan tidak mengulangi serta membaca istighfar maka hatinya akan dibersihkan oleh Alloh, tapi jika dia melakukan dosa itu lagi maka titik itu akan terus bertambah, demikian itu seperti yang Alloh sebutkan dalam kitabnya dengan lafal “ARROON”.

Janganlah penyesalan terus mengurung kita dengan jaring-jaring kesedihan yang tiada habisnya. Selama kita masih diberi kesempatan hidup maka percayalah, Alloh sedang menunggu kita untuk kembali kepadaNya. Jika kita takut akan dosa-dosa kita, itu artinya ada keimanan dalam hati kita. Cobalah hayati hadits Nabi ini :  

“Innal mukmina yaroo dzunuubahu ka-annahu qoo’idun  tachta jabalin yakhoofu an-yaqo’a ‘alaihi, wainnal faajiro yaroo dzunuubahu kadzubaabin marro ‘alaa anfihi faqoola bihi hakadzaa”. (H.R. Bukhori fii kitaabid da’awaat).

Artinya: “Sesungguhnya orang iman melihat dosa-dosanya seakan-akan dia duduk di bawah gunung dengan perasaan yang kuatir jika gunung itu  jatuh menimpanya, dan sesungguhnya orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya lalu dia mengusir lalat itu dengan tangannya”.

Jika dalam hati kita ada rasa takut akan akibat dari dosa-dosa kita, itu artinya kita masih mempunyai benih-benih keimanan. Sebaliknya jika kita menganggap dosa hanyalah sesuatu yang kecil dan tidak ada rasa kuatir akan akibatnya, itu artinya hati kita sudah RUSAK. Jangan merasa hina jika kita berani melakukan taubat. Malu memang…, tapi ingatlah bagi Alloh taubat adalah perbuatan yang sangat mulia. Apalagi taubat yang dilakukan oleh hamba-hamba Alloh yang masih berusia muda. Jika orang yang sudah tua melakukan taubat itu sudah sepantasnya. Karena logikanya mereka sudah semakin mendekati ajalnya. Walaupun sesungguhnya tiada yang tahu kapan datangnya ajal itu. Tapi pemuda yang melakukan taubat adalah luar biasa. Di mana umumnya mereka masih sangat terlena dengan kesenangan, keglamoran dan hiruk-pikuk dunia. Umumnya mereka jarang sekali yang mengingat kematian, tapi ternyata ada yang mempunyai niat melakukan taubat atas dosa-dosanya, sungguh makhluk Alloh yang luar biasa. Perhatikan hadits berikut ini:

“Walladzi nafsi biyadihi laulam tudznibuu ladzahaballoohu bikum walaja- a biqoumin yudznibuuna fayastaghfiruunallaahu fayaghfiru lahum”. (H.R. Muslim fii kitaabittaubah). 

~ Demi Alloh seandainya kalian hidup di muka bumi ini tidak ada yang melakukan dosa maka Alloh akan memusnahkan kalian dan Alloh akan mendatangkan kaum yang lain selain kalian yang mereka melakukan dosa lalu mereka memohon ampun kepada Alloh lalu Alloh mengampuni mereka.

Sahabatku…, penyesalan atas kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan memang harus. Tapi penyesalan yang tiada berujung yang kemudian melahirkan keputus-asaan adalah kebodohan yang bercabang-cabang. Apalagi sampai menganggap bahwa hidup kita tiada berarti lagi, sungguh ini adalah bisikan-bisikan syetan yang tiada henti menjerumuskan kita ke dalam jurang kehinaan. Ketika syetan telah berhasil menyimpangkan hati kita lalu kita berbuat dosa, artinya kita telah kalah oleh syetan. Dengan menunaikan taubat berarti kita berusaha untuk bangkit melawan BIADAB syetan dan mulai mengumpulkan kembali kebaikan-kebaikan yang telah dihancurkan syetan. Namun jika kita terus menerus dalam penyesalan, merasa tidak berguna lagi untuk hidup, lebih parahnya lagi sampai bunuh diri, itu artinya kita sudah kalah oleh syetan, kemudian diinjak-injak, diludahi, dihina oleh syetan. MAU…? 

Sahabat…., sebesar apapun kesalahan kita, BANGKITLAH….!

“Lau akhthoktum chatta tab-lugho khothooyaakumus-samaak, tsumma tubtum lataaba ‘alaikum”. (H.R. Ibnu Maajah fii kitaabiz zuhud) 

~ Seandainya kalian melakukan kesalahan hingga dosanya menumpuk setinggi langit lalu kalian bertaubat maka niscaya Alloh menerima taubat kalian.

Buktikan bahwa kita sangat menghargai diri kita. Sebesar apa kita menghargai diri kita adalah seberani apa kita mengakui kesalahan kita.

“Attaaibu minadz-dzambi kamal laa dzamba lahu”. (H.R. Ibnu maajah fii kitaabiz zuhud) 

~ orang yang bertaubat dari dosanya adalah sebagaimana orang yang yang tidak punya dosa.

Selagi kita masih bernafas maka ada kesempatan untuk bertaubat, Jangan tunda lagi. Bersyukurlah dan banggalah jika hati kita terpanggil untuk bertaubat. Artinya kita masih mencintai Alloh. Beruntung jika yang mengingatkan kita untuk bertaubat adalah teman atau keluarga kita atau siapapun mereka. Karena jika Alloh langsung yang mengingatkan maka rasanya akan sangat pahit. Maka segeralah sebelum Alloh langsung mengingatkan kita dengan caranya yang sungguh di luar dugaan kita.

Innallooha yaqbalu taubatal ‘abdi maalam yughorgir. (H.R. Tirmidzi fii kitaabid da’awaat) 

~ Sesungguhnya Alloh akan menerima taubat seorang hamba selagi hamba belum sekarat.

Betapa gembiranya Alloh ketika melihat hambaNya mau bertaubat. Bahkan lebih dari kegembiraan kita karena kita menemukan kembali harta kita yang hilang. Nabi bersabda:  

Lalloohu asyaddu farochan bitaubati ‘abdihi chiina yatuubu ilaihi min achadikum kaana ‘alaa roochilatihi biardli falaatin fanfalatat minhu wa’alaihaa tho’aamuhu wasyaroobuhu, fa-aisa minhaa fa-ataa syajarotan fadl-thoja’a fii dlillihaa qod ayisa mirroohilatihi fabainaa huwa kadzaalika idzaa huwa bihaa qooimatan ‘indahu fa akhodza bikhithoomihaa tsumma qoola min syiddatil farochi, “Alloohumma anta ‘abdi wa anaa robbuka” akhthoa min syiddatil farocha”. (H.R. Muslim fii kitaabit taubah).

Artinya: “Niscaya senangnya Alloh terhadap hambaNya yang bertaubat melebihi senangnya salah satu kalian ketika berkendara (onta/kuda/keledai) di padang pasir kemudian kendaraan itu lepas, padahal kendaraan itu membawa semua perbekalan yang diperlukan dalam perjalanan. Lalu kalian putus asa dari kendaraan itu. dan kalian menuju sebuah pohon untuk beristirahat di sana. Akhirnya kalian tertidur di bawah naungan pohon itu dengan rasa putus asa atas hilangnya kendaraan itu. Tiba-tiba kalian terbangun dan melihat kendaraan itu ada di sisi kalian. Bergegas kalian memegang kendali kendaraan itu seraya berkata: “Ya Alloh…! Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu” karena sangatnya gembira hingga mengucapkan kalimat yang salah tidak terasa.

GembiraNya Alloh atas hambaNya yang bertaubat LEEBIHHH dari itu. Sahabatku…, siapapun orangnya yang menyampaikan kebenaran kepada kita, dia tidak mampu sedikitpun merubah kita, merubah cara pandang kita, merubah keputusan kita, merubah karakter kita, tidak bisa!. Sepenuhnya yang mampu merubah kita adalah diri kita sendiri atas idzin Alloh. Alloh telah menurunkan petunjukNya dalam Alqur an. 

Alloh juga telah memberikan kesempatan seluas-luasnya sampai hari kiamat kepada syetan, iblis untuk menggoda manusia agar bersama-sama menjadi temannya di neraka nanti. KEBENARAN DAN KEBATHILAN SUDAH JELAS, Pilihan ada pada kita. Jalan manapun yang kita pilih masing-masing ada konsekwensinya. Namun yang paling penting adalah akhir dari semuanya. Adakah kita ingin kembali dalam kehidupan kita yang sejati di mana setiap detik dan setiap mili dari kehidupan kita penuh dengan kebahagiaan bersama dengan orang-orang yang kita cintai. 

Semoga dengan idzin Alloh kita mampu menggerakkan diri kita dengan segala kemampuan kita untuk keluar dari cangkang kemaksiatan yang membungkus kita tanpa celah sedikitpun. Akhirnya Alloh menerangi hati kita dengan cahaya suciNya yang menjadikan kita bisa merasakan manisnya keimanan.

Ya Alloh…!, Ya Alloh……..!, Ya robbi…!, terimalah aku kembali dan tunjukkan dimana surgaku…….?!.

Terima kasih telah membaca halaman ini. Semoga  Allah senantiasa memberikan keamanan, keselamatan, kelancaran, keberhasilan dan kebarokahan, aamiin.